BERITA ARTIKEL

Puasa dan Empati Sosial

Puasa dan Empati Sosial

 Oleh: Dr.M. Said Ghazali MA.

Ibadah yang Allah syariatkan kepada Manusia seluruhnya mengandung Hikmah dan tujuan, Imam syatibi dalam al-Muawafaqatnya mengatakan, Sesungguhnya Syariat ini semata-mata tujuannya adalah untuk kepentingan menusia didunia dan akhirat (Innama wudia’t Hazihi as-syari’ah li mashalihil ibad fil A’jil wal A’jil ma’an). Puasa merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang secara jelas mengandung hikmah agar meraih sikap hidup takwa seperti yang disebut Al-Quran dalam surah al-Baqarah ayat 183. Hikmah lain yang tersirat dari esensi taqwa adalah memupuk rasa empati, solidaritas, persamaan dan kesetiakawanan, kasih sayang, tepa selira, dan kesetiakawanan sosial. Dengan hikmah dan rahasia diatas, manusia dilatih agar dapat meminimalisasi sikap bakhil dan individualis dalam dirinya sehingga dia mau berbagi dengan orang lain, walaupun kesukaan terhadap harta benda yang pada hakekanya adalah naluri.

kita maklumi, sebagian masyarakat terdiri dari golongan dhuafa dan mustadh’afhin. Mereka apakah yang lemah karena faktor kultural atau struktural mengalami kesusahan dan penderitaan hidup. Setiap hari mereka menahan lapar dan dahaga, sementara bekal makanan seadanya. Puasa baginya adalah hal wajar yang dialami mereka sehari-hari. Dengan puasa, orang-orang kaya akan merasakan betapa sakit dan perihnya menahan lapar, padahal itu hanya sementara waktu. Perasaan ini akan mengingatkan mereka kepada sebagian saudaranya yang dhuafa dan mustadh’afhin yang senantiasa merasakan lapar dan dahaga sepanjang waktu.

Memang banyak orang yang menyerukan empati sosial, namun banyak pula yang hanya sebatas retorika, teori, aksesoris dan kata-kata, belum pada tahapan aksi dan praktik langsung. Disnilah nilai kelebihan dari puasa sebagaimana dibuktikan langsung oleh rasulallah sendiri seperti yang disebutkan dalam hadist, bahwa beliau jika berpuasa Ramadhan kedermawanan beliau bertambah luar biasa dibandingkan dengan bulan-bulan lain tak ubahnya kemurahan beliau melebihi cepat dan indahnya tiupan angin. Keempatian ini banyak diikuti oleh para sahabat dan pengikut beliau.

Imam Syafii berkata, “Aku menganjurkan kaum muslimin melipat gandakan kedermawanan sewaktu puasa, atas dasar meneladani Rasulallah Saw., memenuhi hajat kebutuhan fakir miskin, dan membantu ekonomi orang-orang yang karena aktivitas puasa tidak dapat bekerja dan berkarya secara maksimal.

Aksi dan praktik langsung empati sosial pada waktu puasa banyak sekali jalan yang bisa dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, memberikan ifthar (makanan berbuka) kepada orang-orang berpuasa, Rasulallah Saw. Bersabda: من فطر صائما كتب له مثل أجره لا ينقص من أجره شي (رواه ابن حبان) 

Artinya: “Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang berpuasa maka baginya pahala serupa yang diberikan kepada orang yang berpuasa. Hanya saja pahala orang berpuasa tidak terkurangi sedikitpun”.

Kedua, memberikan zakat fitrah. Zakat sebesar 1 sha’ (1 sha’ = 4 mud; 1 mud= 6 ons; 6ons x 4 = 2400 gram, dibulatkan menjadi 2,5 kg) makanan pokok yang diberikan kepada fakir miskin. Zakt fitrah ini terkait secara khusus dengan puasa, yaitu sebagai penambal berbagai kesalahan (dosa-dosa) kecil yang dilakukan selama menjalani ibadah puasa. Dalam hadis diceritakan bahwa:

فرض رسول الله  صلى الله عليه وسلم  زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين ( رواه أبو داود)

Artinya:”  Rasulullah saw. Menetapkan zakat fitrah sebagai penyuci orang berpuasa dari perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin”.

Ketiga, memperbanyak sedekah, yaitu memberikan bantuan. Bedanya dengan zakat, sedekah tidak terikat oleh aturan tertentu. Sabda Rasulullah saw. :  أفضل الصدقة صدقة في رمضان (رواه الترمذي)     

Artinya:” Sebaik-baik sedekah adalah sedekah dibulan Ramadhan”.

Keempat, Menyegerakan zakat maal. Zakat maal umumnya diberikan jika hasil panen (munuai hasil) ibarat bidang pertanian, gaji dan honorarium, atau telah cukup hitungan setahun (haul) ibarat bidang perdagangan. Dalam rangka meraih kemuliaan bulan Ramadhan, pengeluaran zakat maal bisa disegerakan. Rasulullah saw bersabda:

حصنوا أموالكم بالزكاة وداووا مرضاكم بالصدقة وأعدوا للبلاء الدعاء (رواه الطبراني في المعجم الكبير)

Artinya:” Peliharalah hartamu dengan zakat, obatai orang-orang sakit dengan sedekah. Dan hadapi datangnya bencana dengan doa.

Kelima, ditetapkannya membayar fidyah bagi orang-orang yang tidak menjalankan puasa karena tidak mampu atau berat oleh karena suatu sebab yang tidak dapat dihilangkan.Mereka boleh tidak berpuasa, dan tidak wajib menggantinya pada hari lain, cukup membayar fidyah sebesar 1 mud (6 0ns) setiap harinya kepada fakir miskin. Allah swt berfirman:    على الذين يطيقونه فدية طعام مسكين

Artinya:” wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin...”(QS. AlBaqarah: 184).

Kaum dhuafa dan mustadh’afin (proletar) sebenarnya memiliki jasa materiil dan non materiil yang besar bagi tata kehidupan dibumi ini, khususnya bagi orang-orang kaya (borjuis). Jasa materiil misalnya, orang kaya membutuhkan karyawan dan buruh untuk membantunya yang umumnya terdiri dari orang-orang lemah dan miskin. Mereka bisa menjadi kaya karena sokongan dan jerih payah orang-orang yang lemah dan miskin tersebut. Dan lagian, kalau tidak ada orang miskin, mana ada orang kaya? Atas dasar ini, Rasulullah saw menjelang perang kerap meminta dicarikan orang-orang dhuafa agar meraih kemenangan. Fakta di lapangan banyak orang dilapangan menjadi kaya justru dengan merawat anak yatim dan suka menolong orang miskin. Rasululah saw. Bersabda:

ابغوني الضعفاء فإنما ترزقون وتنصرون بضعفائكم (رواه أبو داود)

Artinya:” Carikan aku orang-orang lemah, sesungguhnya kamu diberikan kemenangan dan rizki semata-mata berkah orang-orang dhuafa di antara kamu.” (HR. Abu Dawud).

Sedangkan jasa non materi yang diberikan oleh kaum dhuafa dan mustadh’afin kepada orang kaya justru lebih berharga dibandingkan jasa materi. Orang-orang kaya cendrung hidup mewah, arogan, dan semena-mena. Bumi rusak dan hancur disebabkan ulah sebagian besar orang-orang kaya. Dengan prilaku durhaka ini Allah swt. Berkehendakmenghancurkan bumi ini. Namun disis lain, ada orang-orang lemah. Hati mereka lugu dan tulus. Mereka cenderung rendah hati, sabar, tabah, tekun beribadah dan berdoa, disamping cenderung melestarikan bumi. Kalau melihat mereka, Allah swt merasa belas kasih sehingga mereda kehendak-Nya untuk menghancurkan bumi. Hal ini ditunjukkan dalam firman allah swt. :  لولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لفسدت الأرض

Artinya:” ....Seandainya Allah tidak menolak (keburukan) sebagian manusia dengan (kebaikan) sebagian yang lain niscaya rusaklah bumi ini”(QS. Albaqarah:251).

Atas dasar ini, semestinya keberadaan kaum dhuafa dan mustadh’afin sangat penting untuk diperhatikan dengan menumbuhkan sikap peduli, empati, belas kasih, solidaritas, dan kesetiakawanan sosial, untuk mengangkat derajat dan mengentaskan kemiskinan mereka sehingga tercipta kemakmuran dan keadilan di muka bumi. Dengan sikap empati, akan menghilangkan gap (kesenjangan) antara kaum borjuis (orang kaya) dan kaum proletar (orang miskin).

Allah swt dan Rasulullah saw memberikan jaminan kemajuan, keadilan dan kemakmuran jika terjalin hubungan yang serasi dan harmonis antara orang kaya dan orang miskin. Rasulullah saw. Bersabda:

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا أهل الأرض يرحمكم من في السماء (رواه أبو داود)

Artinya:” Orang-orang yang belas kasih akan dikasihi oleh Allah Zat Yang Maha Pengasih. Berlakulah belas kasih kepada makhluk dibumi, niscaya makhluk di langit akan berlaku belas kasih kepadamu”.

Galeri Foto

Jadwal Shalat

Jum'at, 13 Desember 2019

Imtak Mingguan

TGH. Husnuddu'at

Khalifah Umar Bin Khattab ikut berkumpul bersama jamaah dan beliau bertanya : “ bagaimana keadaan Wali Kota di “Halb” ini ( Halb adalah nama kota di Damaskus, Syiria) mendengar pertanyaan itu berbagai macam jawaban pun muncul : 
Orang pertama menjawab : “Wali Kota kami sering terlambat Masuk Kantor, datangnya siang terus setiap hari”
 

Selengkapnya

Agenda

Rekening ZIS

504 02.77.777277
Dana Zakat BAZNAS Provinsi NTB