BERITA ARTIKEL

Zakat Profesi Dalam Perspektif Ulama Mazhab ( II )

B. Persefektif Ulama tentang ketentuan nisab, haul dan kadar zakat (prosentase) Zakat Profesi.

            Dari pemaparan ulama tentang al maal al mustafad, ulama berbeda pendapat dalam menentukan nishab, haul dan kadar zakat profesi berdasarkan analogi yang dilakukan, dalam hal ini ada tiga pendapat yang bisa disimpulkan.

Pendapat para ulama yang menganalogikan (qiyas) zakat hasil profesi dengan zakat hasil perdagangan, karena sama-sama merupakan hasil usaha. Oleh karena itu, nisab zakat profesi senilai 85 gram emas, sedangkan kadar zakat yang harus dibayar sebanyak 2,5 %. Jika harga emas satu gram Rp.400.000, maka seseorang yang memiliki penghasilan sejumlah Rp. 5.000.000, maka zakatnya adalah 400.000 x 85 = Rp. 34.000.000, - . zakatnya 2.5%  = Rp. 850.000.

Berarti dia wajib membayar zakat sebesar Rp. 850.000 setahun, atau setiap bulannya menjadi Rp. 850.000/ 12 = Rp. 70.833.333 (dibulatkan menjadi Rp. 70.834). 

Dari sini dapat disimpulkan bahwa, seseorang yang memperoleh penghasilan Rp. 43.000.000/ tahun, atau 2.833.333/bulan (34.000.000/12bulan) maka dia wajib membayar zakat sebesar Rp. 70.834. Hal ini didasarkan pada harga 1 gram emas Rp. 400.000. (Jika harga emas berubah, maka jumlah pembayaran zakatnya pun ikut berubah). Sehingga, jumlah penghasilan wajib bayar zakat sangat tergantung kepada harga 85 gram emas tersebut.

Pendapat para ulama yang menganalogikan zakat hasil profesi dengan zakat hasil pertanian. Menurut mereka, zakat  profesi kurang tepat kalau dianalogikan dengan hasil perdagangan. Sebab dalam zakat perdagangan, semua kekayaan baik modal maupun keuntungan diperhitungkan zakatnya. Sedangkan zakat profesi yang diperhitungkan hanya hasilnya saja. Oleh karena itu, pas kalau zakat profesi diqiyas dengan zakat hasil pertanian karena keduanya mempunyai kesamaan bahwa yang diperhitungkan hasilnya saja, sedang modalnya tidak. Zakat hasil ini dikeluarkan pada setiap mendapatkan gaji atau penghasilan.

                Dengan demikian nisab hasil profesi adalah 653 Kg padi yang wajib dibayar zakatnya 5%, jika harga padi 1 Kg Rp.2000, maka seseorang yang berpenghasilan Rp.2000 x 653 kg = Rp.1.306.000,- wajib  membayar zakat 5% yakni 1.306.000 x 5 % = Rp.65.300.

Pendapat para ulama yang menganalogikan zakat profesi dengan harta qarun (rikaz) dan harta rampasan perang (ghanimah) dengan sebab keduanya sama-sama mudah mendapat penghasilan yang banyak dan tidak ada resiko kerugian seperti yang terjadi pada perdagangan dan pertanian . Oleh karena itu, seseorang yang memperoleh penghasilan dari kerja (profesi) harus mengeluarkan zakat sebanyak 20 %. Tanpa ada nisab dan dikeluarkan pada saat menerimanya.  Misalnya, jika seseorang mempunyai kewajiban berzakat sebesar 20 % x Rp.5.000.000, maka dia wajib mengeluarkan zakat sebesar Rp.1.000.000, setiap bulan.

                     Sekh Wahbah Az zuhaili menandaskan: dari sini dapat diambil suatu pendapat bahwa Al Maal Al Mustafad ( harta penghasilan ) wajib di zakatkan saat menerima, sekalipun belum mencapai haul, bersandar kepada pendapat sebagian sahabat seperti ibnu abbas, ibnu mas’ud dan muawiyah, juga sebagian tabiin seperti Az zuhri, Al hasan al bashri dan makhul, dan pendapat umar bin abdul aziz, al baqhir, As shadiq, An nashir dan daud Azhahiri. Kemudian kadar wajib harta yang harus dizakatkan Ar Rub’ul Al Usyur  ( 2.5% ) sesuai dengan keumuman ayat nash-nash yang menjelaskan wajib 2.5 %  bagi zakat uang (emas atau perak) baik telah sampai haulnya atau dapat dihasilkan. apa bila seorang muslim menzakat hasil profesinya saat menghasilkan atau menerimanya maka tidak perlu dizakatkan lagi ketika berakhir haul. 

            Sekh Al Qardhawi mengatakan” saya  berpendapat, harta  hasil usaha   seperti  gaji  pegawai,  upah  karyawan,  pendapatan dokter, insinyur, advokat dan  yang  lain  yang  mengerjakan profesi  tertentu dan juga seperti pendapatan yang diperoleh dari modal yang diinvestasikan di luar  sektor  perdagangan, seperti   pada  mobil,  kapal,  kapal  terbang,  percetakan, tempat- tempat  hiburan,  dan  lain-lainnya,  tidak disyaratkan harus berlalu setahun  bahkan harus  dikeluarkan pada waktu diterima”.

C. Penutup:

Pendapatan hasil kerja baik berbentuk Gaji, upah maupun lainnya tergolong dalam bentuk zakat profesi yang merupakan ibadah maaliyah al ijtimaiyah, bentuk penghasilan seperti ini disamakan oleh ulama dengan Al maal Al Mustafad, yang kadar nisab maupun haulnya di analogikan dengan ketentuan yang telah dijelaskan dalam perbedaan ulama dalam masalah ini. Jika zakat dikelola dengan optimal, baik pengambilan atau pendistribusiannya, pasti akan dapat mengangkat sejahteraan sosial. Karena itu, perintah untuk berzakat sekaligus pujian bagi yang melakukannya banyak disebutkan dalam nash-nash Al Quran maupun sunnah dan sebaliknya, banyak juga nash-nash yang mengancam orang-orang yang enggan melakukannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu menjalankan perintah. amin.     

 

Galeri Foto

Jadwal Shalat

Jum'at, 13 Desember 2019

Imtak Mingguan

TGH. Husnuddu'at

Khalifah Umar Bin Khattab ikut berkumpul bersama jamaah dan beliau bertanya : “ bagaimana keadaan Wali Kota di “Halb” ini ( Halb adalah nama kota di Damaskus, Syiria) mendengar pertanyaan itu berbagai macam jawaban pun muncul : 
Orang pertama menjawab : “Wali Kota kami sering terlambat Masuk Kantor, datangnya siang terus setiap hari”
 

Selengkapnya

Agenda

Rekening ZIS

504 02.77.777277
Dana Zakat BAZNAS Provinsi NTB